Menyumbangkan Mainan Si Kecil

Setelah pesta ulang tahun, pasti anak akan menerima banyak sekali hadiah mainan. Sementara di rumah, mainan anak sudah menumpuk hingga tak tahu lagi mau ditaruh di mana. Adalah tindakan yang bijak jika kita menyembunyikan atau menyimpan di tempat yang tak terjangkau anak beberapa mainan yang jarang dimainkan.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Secara periodik, kita bisa merotasi mainan-mainan tersebut. Selain itu, boleh jadi ini saat yang tepat untuk menyumbangkan mainan anak ke orang-orang yang lebih membutuhkan. Kalaupun kita meminta izin si kecil, tentu ia akan memaksa untuk menyimpan semuanya. Namun, sebetulnya ia tidak terlalu ngeh jika ada mainannya yang tidak ada lagi, jika kita tidak menyebutnya. Ajak anak memberikan mainan yang sudah dipilihnya untuk orang lain atau buatlah garage sale dimana anak bisa membantu menyiapkan semuanya.

Banyak Berdiri Lebih Sehat

Menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdiri ketimbang duduk di belakang meja, ternyata bisa memperbaiki kadar gula darah, lemak dalam darah, serta kadar kolesterol. Hasil studi yang dimuat di European Heart Journal ini juga menyatakan, lebih sering berjalan kaki dan tidak banyak duduk pun bisa berpengaruh positif terhadap ukuran pinggang dan indeks massa tubuh.

“Cukup luangkan waktu ekstra dua jam saja sehari untuk berdiri, itu sudah bisa membuat kadar gula darah puasa rata-rata menjadi 2% lebih rendah, trigliserida rata-rata menjadi 11% lebih rendah, dan rasio kolesterol baik terhadap kolesterol jahat menjadi 6% lebih rendah,” kata kepala riset Dr Genevieve Healy dari School of Public Health, University of Queensland, Australia.

Tak Mau Anak Asma? Coba Pelihara Anjing!

Penelitian yang dilakukan di Swedia memperlihatkan, anak-anak yang tumbuh besar bersama anjing peliharaan berisiko 15% kecil untuk mengidap asma, dibandingkan anak-anak yang tidak punya anjing. “Studi sebelumnya memperlihatkan, tumbuh besar di peternakan bisa menurunkan risiko asma pada anak hingga setengahnya. Ternyata, hal ini juga berlaku pada anak-anak yang memelihara anjing,” kata Tove Fall, Asisten Profesor di bidang Epidemiologi dari Department of Medical Sciences dan Science for Life Laboratory, Uppsala University, Swedia.

Sindrom Pertusis

Ada pula sindrom pertusis yang memberikan tanda dan gejala mirip dengan pertusis. Namun, penyebab sindrom pertusis adalah virus dan bak teri lain di luar Bordetella Pertussis. Manifestasi klinisnya juga lebih ringan, lama sakit lebih pendek dan tidak memiliki stadium sebagaima na yang disebabkan B. Pertussis. Pengobatannya dengan pemberian antibiotik untuk mengurangi terjadinya infeksi bakterial. Tindakan pencegah an sama dengan pencegahan penyakit Pertusis.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *